Keanehan Lagu Resah Milik Payung Teduh


Ada yang pernah dengar lagu Payung Teduh yang berjudul "Resah?". Dahulu pertama kali saya mendengar lagu itu dari radio ternama kota Solo, karena lirik dan instrumentnya Teduh seperti nama Bandnya saya cari di Google untuk download lagu tersebut. Setelah dapat saya putar berulangkali. Pertamanya sih nyaman-nyaman saja dengar lagunya terlebih instrumentnya yang mendayu-dayu, tapi lama-lama  merasa ada keanehan dengan lirik-liriknya yang membuat saya merinding. Penasaran apa saja keanehan tersebut?. Saya akan berusaha menafsirkan setiap penggal lirik Resah.

Lirik Pertama setelah Pararara


"Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap"


Dalam lirik tersebut menjelaskan keinginan untuk "Berjalan bersamamu" bersama sesorang yang di cintainya, tapi keanehan muncul kenapa berjalannya "Dalam hujan dan malam gelap?." Kalau di pikir pakai nalar tidak akan masuk akal. Mana ada seseorang mengajak orang yang di cintainnya hujan-hujanan di malam hari terlebih di tempat yang tidak ada cahaya (gelap).

Lirik Ke Dua


"Tapi aku tak bisa bisa melihat matamu"


Dan keanehannya bagaimana mungkin mau mengajak "Berjalan" tapi tidak bisa melihat "Matamu" melihatnya?. Kalimat "Mu" menandakan kalau dia itu ada, tapi kenapa tidak bisa melihatnya?, lantas dia itu siapa?.

Lirik Ke Tiga


"Aku ingin berdua denganmu diantara daun gugur"


Kalau di antara daun gugur penjelaannya di atas daun yang berguguran di atas tanah? Kenapa tidak di bangku?. hujan-hujan di atas tanah?.

Lirik Ke Empat


"Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu"


Punya keinginan yang kuat tapi tidak berani untuk membahagiakannya?. Dia sedang "Resah" yang membutuhkan kenyamanan.

Lirik Ke Lima


"Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang"


Menunggu "di atas" dan "melayang-layang" berarti tidak berpijak ke tanah?. kalau di atas pohon atau bangunan tidak bisa "Melayang-layang?" . Melayang-layang di atas mengambarkan sesuatu yang di terbangkan oleh angin, bukan terbang yang di sebabkan oleh kemampuannya sendiri. Menunggu tapi melayang sama dengan tergantung?.

Lirik Ke Enam


"Tergoyang angin menantikan tubuh itu"


Di terpa angin "Menantikan tubuh itu". Kalimat "Menantikan" berarti tidak pasti/kapan ia mendapatkan "Tubuh itu". Mendapatkan seseorang yang diinginkannya.

Lagu penuh misteri bukan?. Kesimpulan yang saya dapatkan dari lirik lagu itu adalah lagu yang menceritakan sepasang kekasih yang sudah meninggal (kalau pengalaman tidak mungkin). Tokoh utama dalam lagu itu sangat terpukul dengan kematian kekasihnya, sebab itu ia "Gantung Diri" dengan harapan langsung bisa menemui kekasihnya di alam sana, tapi sayangnya ia tidak bisa menemui kekasihnya yang sudah abadi. Jiwanya melayang-layang tanpa arah tujuan menunggu "Tubuh Itu" menunggu hari kiamat.

Entahlah, hanya penciptanya yang tahu maksud sebenarnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel