Soe Hok Gie Pemuda Yang Merdeka


Tentunya bagi para pecinta alam nama Soe Hok Gie sudah tidak asing lagi di dengar. Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) keturunan Tiong Hoa pencetus istilah "Pecinta alam" yang sebelumnya mengunakan sebutan "Aktifis lingkungan hidup atau penggiat alam bebas". sekaligus pengagas berdirinya MAPALA Ui. Seorang pemuda yang suka menghabiskan waktu di alam bebas dan masyarakat sekitar.

SOE HOK GIE


 Semasa hidupnya terkenal akan kecintaannya kepada alam dan kritis menanggapi sesuatu yang tidak beraturan. Pemuda yang anti korupsi, kolusi, dan nepotisme juga yang tidak pernah membedakan seseorang berdasar warna kulit, agama, dan latar belakang. Hal ini ditunjukkan dengan menolaknya untuk mengikuti organisasi kerohanian agamanya dikarenakan hanya untuk kepentingan politik semata.

Tidak jarang juga ia ikut turun kejalan hingga turunnya Soekarno, kemudian di gantikan dengan Soeharto. Semasa kepimpinan Soeharto Gie tetap mengkritisi apa yang menjadi kebijakan Soeharto termasuk soal PKI.

Pada 12 Desember 1969 Gie bersama rekannya melakukan pendakian ke gunung tertinggi di pulau jawa bernama Mahameru bersama rekan-rekan Mapala. Di gunung itu juga Gie meninggal dunia sebab menghirup gas beracun.


Kisah hidupnya di abadikan dalam buku yang berasal dari catatan hariannya dengan judul "Catatan Seorang Demonstran". Berikut beberapa kutipan tulisan Gie:

"Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka"

"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung"

Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel